KESEIMBANGAN EKONOMI 2 SEKTOR (Pt 3)

 



FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN 

 


VIII.         PERSAMAAN FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN
 
Fungsi konsumsi dan tabungan, disamping digambarkan dalam bentuk kurva, juga dapat dinyatakan dalam persamaan aljabar. Persamaan aljabar untuk fungsi konsumsi dan tabungan adalah seperti dinyatakan dalam persamaaan yang dinyatakan dibawah ini.

1.      Fungsi konsumsi ialah : C = a+bY
2.      Fungsi tabungan ialah : S= -a+(1-b)Y

Dimana a : adalah konsumsi rumah tangga pada ketika pendapatan nasional adalah 0,
b : adalah kecondongan konsumsi marginal,
c : adalah tingkat konsumsi dan
y : adalah tingkat pendapatan nasional.
 
Ada kalanya fungsi konsumsi dan tabungan menunjukkan hubungan diantara konsumsi dan tabungan dengan pendapatan disposibel y. Persamaan untuk hubungan seperti itu adalah:
 
1.      Fungsi konsumsi: C=a+b Yd
2.      Fungsi tabungan : S= -a+(1-b)Yd
 
Pendapatan, Konsumsi dan Tabungan (dlm triliun rupiah)

 












Grafik fungsi konsumsi & tabungan
















Dalam contoh yang ditujukan pada tabel dan grafik sebelumnya, maka nilai a = 90 triliun dan b = 0,75. Maka persamaan fungsi konsumsi dan tabungan adalah:
 
C = 90 + 0,75Y
S = -90 + 0,25Y
 
 
 
I.         FAKTOR LAIN PENENTU KONSUMSI DAN TABUNGAN
Dalam pembahasan ini menekankan peranan pendapatan rumah tangga sebagai faktor penentu yang menentukan tingkat konsumsi dan tabungan. Ini didasarkan pada pandangan keynes yang berpendapat tingkat konsumsi dan tabungan terutama ditentukan oleh tingkat pendapatan rumah tangga. Walaupun pendapatan rumah tangga penting peranannya dalam menentukan konsumsi, peranan faktor-faktor lain tidak dapat diabaikan. Dibawah ini diterangkan beberapa faktor lain yang mempengaruhi tingkat konsumsi dan tabungan rumah tangga:
 
1.      Kekayaan Yang Telah Terkumpul.
Sebagia akibat dari mendapat harta warisan, atau tabungan yang banyak sebgai akibat usaha di masa lalu, maka seseorang berhasil mempunyai kekayaan yang mencukupi. Dalam keadaan seperti itu ia tidak terdorong lagi untuk menabung lebih bnyak. Begitupun sebaliknya untuk orang yang tidak memperoleh warisan atau kekayaan. Mereka lebih menekankan menabung untuk memperoleh kekayaan yang lebih banyak di masa yang akan datang, atau untuk memenuhi kebutuhan masa depan
 
2.      Suku Bunga
Suku bunga dapatlah dipandang sebagai pendapatan yang diperoleh dari melakukan tabungan. Rumah tangga akan membuat lebih bnyak tabungan apabila suku bunga tinggi karena lebih banyak pendapatan dari penabungan yang diperoleh. Pada suku bunga rendah orang tidak begitu suka membuat tabungan karena mereka merasa lebih baik melakukan pengeluaran konsumsi dari menabung. Dengan demikian pada tingkat bunga yang rendah masayarakat cenderung untuk meningkatkan konsumsinya.
 
3.      Sifat Berhemat
Berbagai masyarakat mempunyai sikap yang berbeda dalam menabung dan berbelanja. Ada yang suka berlebihan dan ada yang lebih mementingkan tabungan. Dalam masyarakat seperti itu APC dan MPC nya lebih rendah. Tapi ada pula yang mempunyai kecendrungan mengkonsumsi yang tinggi, yang berarti APC dan MPC  adalah tinggi.
 
4.      Keadaan Perekonomian
Dalam perekonomian yang tumbuh dengan banyak pengangguran, masyarakat berkencendrungan melakukan pengeluaran yang lebih aktif. Mereka mempunyai kecendrungan berbelanja lebih bnyak pada masa kini dan kurang menabung. Namun dalam kegiatan perekonomian yang lambat perkembangannya, tingkat pengangguran menunjukan persentasi yang meningkat, dan sikap masyarakat dalam menggunakan uang dan pendapatannya menjadi makin berhati-hati.
 
5.      Distribusi Pendapatan
Dalam masyarakat yang ditribusinya tidak merata, lebih bnyak tabungan yang dapat diperoleh. Dalam masyarakat demikian sebagaian besar pendapatan nasional dinikmati oleh segolongan kecil penduduk yang sangat kaya, dan golongan masyarakat ini mempunyai kecendrungan menabung yang tinggi. Maka mereka daoat menciptakan tabungan yang banyak. Segolongan besa rpenduduk memiliki pendapatan yang hanya cukup membiayai konsumsinya dan tabungannya adlah kecil. Dalam masyarakat yang distribusi pendapatannya lebih seimbang tingkat tabungannya relatif sedikit karena mereka memiliki kecenderungan mengkonsumsi yang tinggi.
 
6.      Tersedia Tidaknya Dana Pensiun Yang Mencukupi
Program dana pensiun dijalankan di berbagai negara . ada negara yang memberikan pensiun yang cukup tinggi kepada golongan penduduknya yang telah tua. Apabila pendapatan lebih besar dari jumlah pensiunnya, para kekerja tidak terdorong untuk melakukan tabungan yang bnyak dan ini menaikan tingkat konsumsi. Begitu pun sebaliknya, apabila pendapatan pensiun sebagai jaminan hidup dihari tua sangat tidak mencukupi, masyarakat cenderung untuk menabung lebih banyak ketika mereka bekerja.
 
Ilustrasi:
Dalam perekonomian suatu negara diketahui kecondongan mengkonsumsi marginalnya sebesar 0,80. Dari survey data yang telah terkumpul, diketahui bawha konsumsi masyarakatnya pada saat pendapatannya 0 sebesar Rp. 10 triliyun. Buatlah tabel pendapatan nasional serta grafik konsumsi dan tabungannya.
 
Jawab:
Diketahui MPC = 0,80 dan konsumsi masyarakat sebesar Rp. 10 triliun, karena
MPC + MPS = 1,   maka  
0,80 + MPS = 1    
MPS = 1 – 0,80
MPS = 0,20
 
Perubahan penambahan pendapatan dapat ditentukan dengan menggunakan rumus
MPC = ∆c/∆y
0,80 = 10/∆y
∆y = 10/0,8
∆y = 12,5
 
Perubahan penambahan tabungan dapat ditentukan dengan rumus
MPS = ∆s/∆y
0,20 = ∆s/12,5
∆s = 0,20 x 12,5
∆s = 2,5
 
















 

Pada saat rumah tangga belum memiliki pendapatan, maka konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga sebesar Rp. 10 trilun yang diperoleh dari mengorek tabungan sebanyak Rp. 10 triliun, sehingga tabungan bernilai Rp. -10 triliun.

Pada saat MPC = 0,80 dan MPS = 0,20, yaitu setiap pertambahan pendapatan nasional sebanyak Rp. 12,5 triliun akan menambah konsumsi sebanyak Rp. 10 triliun (MPC x pertambahan pendapatan nasional) dan  tabungan sebanyak Rp. 2,5 triliun (MPS x pertambahan pendapatan nasional). Nilai MPC dan MPS tersebut akan menentukan tingkat kecondongan fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.

 
















Pada titik A menggambarkan bahwa pendapatan nasional sebesar Rp. 50 triliun dan konsumsi sebesar Rp. 50 Triliun artinya terdapat keseimbangan antara pendapatan nasional dan konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga. Sedangkan pada titik B menggambarkan pada saat pendapatan nasional bertambah sebesar Rp. 100 triliun, maka konsumsi yang dilakukan oleh rumah tangga juga mengalami peningkatan sebesar Rp. 90 triluiun.
 
Dengan demikian maka perubahan pendapatan nasional (∆Y) sebesar Rp. 50 triliun akan menambah perubahan konsumsi rumah tangga (∆C) sebesar Rp. 40 triliun. Hal ini membuktikan bahwa:
 
= ∆C / ∆Y  
= 40/50
= 0,80 nilai yang sama dengan MPC.
 
Titik D menunjukan tingkat tabungan adalah nol (S=0) apabila pendapatan nasional adalah sebanyak Rp. 50 triliun. Sedangkan titik E menggambarkan ketika pendapatan nasional sebanyak Rp. 100 triliun, maka tabungan yang dilakukan oleh rumah tangga sebesar Rp. 10 triliun.
 
Dengan demikian pergerakan dari titik D ke E menggambarkan bahwa ketika pendapatan nasional berubah (∆Y) sebesar Rp. 50 triliun, maka akan menambah perubahan tabungan oleh rumah tangga (∆S) sebesar Rp. 10 triliun. Hal ini membuktikan bahwa:
 
= ∆C / ∆S
=  10/50
= 0,20  nilai yang sama dengan MPS.
 
Dari pembahasan tersebut, maka dapat pula dibuat persamaan fungsi konsumsi dan tabungan yaitu sebagai berikut:
 
C = 10 + 0,8Y
S = -10 + 0,2Y
 











Budiono: Makro Ekonomi
Sadono Sukirno: Makro ekonomi Teori Pengantar
Suparmoko & Eleonora S : Pengantar Ekonomi Makro


Share:

0 comments:

Posting Komentar

PENGUNJUNG