KESEIMBANGAN EKONOMI 2 SEKTOR (Pt 2)

 


FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN

 
 

IV.         FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN
 
Dalam analisis makroekonomi yang lebih penting bukanlah melihat konsumsi dan tabungan suatu rumah tangga, tetapi melihat konsumsi dan tabungan dari semua rumahtangga dalam perekonomian. Pengeluaran konsumsi dari semua rumah tangga dalam perekonomian dinamakan konsumsi agregat dan tabungan semua rumah tangga dalam perekonomian dinamakan tabungan agregat. Untuk menujukan perilaku rumah tangga dalam perekonomian dalam melakukan konsumsi dan tabungan maka dapat melihat dari ciri-cirinya dengan menghubungkan kedua variabel tersebut dengan pendapatan nasional.
 
Berikut adalah contoh angka mengenai pendapatan nasional, konsumsi agregat dan tabungan agregat:

 Ilustrasi 1:
1.   MPC adalah tetap yaitu: 0,75
2.   Pada saat pendapatan = 0 (Y = 0), maka rumah tangga dalam perekonomian melakukan konsumsi sebanyak Rp. 90 triliun
 
 
V.        DAFTAR KONSUMSI DAN TABUNGAN
Dari contoh tersebut maka dapat diketahui MPS sebagai berikut:

MPC + MPS = 1
0,75 + MPS = 1
MPS = 1 – 0,75
MPS = 0,25
 
Untuk perubahan tingkat pendapatan sebagai berikut:

MPC = ∆C/∆Yd
0,75 = 90 triliun / ∆Yd
∆Yd = 90 triliun / 0,75
∆Yd = 120 triliun
 
Sedangkan untuk perubahan tingkat tabungannya adalah sebagai berikut:

MPS = ∆S/∆Yd
0,25 = ∆S/120 triliun
∆S = 120 triliun x 0,25
∆S = 30 triliun
 
Dari perhitungan tersebut maka dapat dibuat tabel sebagai berikut.
 
Pendapatan, Konsumsi dan Tabungan (dlm triliun rupiah)
















Tabel tersebut menunjukan satu contoh yang mengambarkan tingkat pendapatan nasional, tingkat konsumsi dan tingkat tabngan yang menggunakan pemisalan seperti yang dinyatakan di atas. Pada saat penapatan nasional = 0, maka konsumsi rumah tangga daam perekonomian adalah sebanyak Rp. 90 triliun, dan dengan demikian rumah tangga akan mengambil tabungan sebanyak Rp. 90 triliun juga.
 
Contoh tersebut menggambarkan pula bahwa pendapatan nasional (∆Yd) selalu mengalami perubahan sebanyak Rp. 120 triliun, dan karena dimisalkan MPC = 0,75 (dan sebagai akibatnya MPS = 0,25) maka konsumsi dan tabungan masing-masing akan bertambah sebanyak 0,75 (Rp. 120 triliun) = Rp. 90 triliun dan 0,25 (Rp. 120 triliun) = Rp. 30 triliun. Bedasarkan kepada data tersebut, maka konsumsi agregat selalu mengalami pertambahan sebanyak Rp. 90 triliun dan tabungan agregat selalu mengalami pertambahan sebanyak Rp. 30 triliun.
 
 
VI.      GRAFIK FUNGSI KONSUMSI DAN FUNGSI TABUNGAN
Dari tabel tersebut, maka dapatlah dibuat kurva fungsi konsumsi dan fungsi tabungan. sebelum menerangkan ciri-ciri fungsi konsumsi dan fungsi tabungan terlebih dahulu perlu didefinisikan arti dari istilah fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.
 
1.    Fungsi konsumsi
Adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan diantara tingkat konsumsi rumahtangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional perekonomian tersebut.
 
2.     Fungsi tabungan
Adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan diantara tingkat tabungan rumahtangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional perekonomian tersebut.




 

 









Bedasarkan data dalam tabel tersebut, maka dapat dibuat grafik konsumsi dan tabungan. Pada grafik C/S (tegak lurus) menggambarkan tingkat konsumsi (C) dan tingkat tabungan (S). Sedangkan sumbu mendatar merupakan tingkat pendapatan nasional (Y). Bedasarkan grafik tersebut, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
 
1.      Pada saat pendapatan nasional = 0, konsumsi rumah tangga berjumlah Rp. 90 triliun, dan tabungan sebesar Rp. 0 triliun. Fungsi konsmsi pada kurva C akan bermula pada nilai Rp. 90 triliun di sumbu tegak (C/Y) yang menggambarkan tingkat konsumsi. Sedangkan fungsi tabungannya kurva S pada saat pendapatan nasional (sumbu y) = 0, bermula di nilai -90 pada sumbu tegak (Y/C).
 
2.  Pada saat kecenderungan mengkonsumsi masyarakat MPC = 0, 75 maka akan menambah pendapatan nasional (∆Yd) sebesar Rp. 120 triliun. Bertambahnya pendapatan nasional sebanyak Rp. 120 triliun ini mengakibatkan naiknya konsumsi masyarakat (C) sebesar Rp. 90 triliun. Pada saat pendapatan nasional (∆Yd) mencapai sebesar Rp. 360 triliun, konsumsi masyarakat (C) bertambah sebesar Rp. 360 triliun (di titik A).
 
3.      Jika pendapatan nasional (∆Yd) naik dua kali yaitu sebesar Rp. 240 triliun dari sebelumnya Rp. 360 triliun, sehingga menjadi Rp. 600 triliun, maka akan mendorong kenaikan pada konsumsi masyarakat (C) dua kali juga yang sebelumnya Rp. 360 triliun naik sebesar Rp. 180 triliun, yaitu sebesar Rp. 540 triliun (di titik B)
 
4.      Pada saat MPS = 0,25, ketika ada perubahan kenaikan pendapatan nasional sebesar Rp. 120 triliun, maka akan menambah tingkat tabungan (S) sebesar Rp. 30 Triliun. Pada saat pendapatan nasional (∆Yd) mencapai sebesar Rp. 360 triliun, tabungan masyarakat akan berada pada nilai Rp. 0 (di titik D)
 
5.      Jika pendapatan nasional (∆Yd) naik dua kali yaitu sebesar Rp. 240 triliun dari sebelumnya sebesar RP. 360 triliun, menjadi Rp. 600 triliun, maka akan mendorong kenaikan konsumsi (C) dan juga mendorong kenaikan tabungan (S) sebanyak dua kali sebesar Rp. 60 triliun. Yaitu dari sebelumnya Rp. 0, naik menjadi Rp. 60 triliun (di titik E)

  

VII.         MPC DAN MPS DAN KECONDONGAN FUNGSI KONSUMSI DAN TABUNGAN

Dari ciri-ciri fungsi konsumsi dan tabungan telah dinyatakan bahwa nilai MPC akan menentukan kecondongan fungsi konsumi dan nilai MPS akan menentukan kecondongan fungsi tabungan. Al itu dapat dibuktikan dengan melihat akibat dari pergerakan diantara dua titik pada fungsi konsumsi dan fungsi tabungan.
 
1.    MPC dan Kecondongan Fungsi Konsumsi
Dalam grafik tersebut, titik A menggambarkan bahwa pendapatan nasional adalah Rp. 360 triliun dan konsumsi adalah Rp. 360 triliun. Sedangkan titik B menggambarkan pendapatan nasional bernilai Rp. 600 triliun sedangkan nilai konsumsi adalah Rp. 540 triliun. Dengan demikian, pergerakan dari titik A ke Titik B menggambarkan:
 
1.      Pendapatan nasional bertambah sebanyak Rp. 120 triliun
2.      Konsumsi rumah tangga bertambah sebanyak Rp. 180 triliun
 
Perubahan tersebut menunjukan bahwa kecondongan fungsi konsumsi adalah 180 / 240 = 0,75. Nilai ini adalah sama dengan nilai MPC, dan berarti: kecondongan fungsi konsumsi adalah sama dengan nilai MPC.
 
2.    MPS dan Kecondongan Fungsi Tabungan
Dalam grafik 2, titik D menunjukan tingkat tabungan adalah nol (S=0) apabila pendapatan nasional adalah sebanyak Rp. 360 triliun. Seterusnya titik E menggambarkan ketika tabungan mencapai RP. 60 triliun penapatan nasional adalah sebanyak Rp. 600 triliun. Dengan demikian pergerakan dari titik D ke E menggambarkan:
 
1.      Pendapatan nasional bertambah sebanyak Rp. 240 triliun
2.      Tabungan  bertambah sebanyak Rp. 60 triliun
 
Perubahan tersebut menunjukan kecondongan tabungan adalah: 60 / 240 = 0,25. Nilai ini sama dengan nilai MPS dan berarti: Kecondongan fungsi tabungan adalah sama dengan nilai MPS.
 













Sadono sukirno : Makro Ekonomi Teori Pengantar
Budiono: Makro Ekonomi
Suparmoko & Eleonora S : Pengantar Ekonomi Makro



Share:

0 comments:

Posting Komentar

PENGUNJUNG